Selama pendudukan kolonial Belanda di berbagai wilayah Indonesia yang cukup lama meninggalkan pengaruh yang sangat kuat. Salah satunya bidang seni yaitu arsitektural. Hingga saat ini banyak sekali bangunan kuno era kolonial yang berdiri di kawasan Jawa Timur, tak terkecuali di Surabaya.
Karya arsitektur kolonial Belanda itu tak sekadar menghiasi kota. Tapi juga merupakan rekaman sejarah dalam bentuk nyata sehingga bisa dipelajari oleh generasi muda. Surabaya sendiri memiliki cagar budaya arsitektur yang kaya dan beberapa diantaranya merupakan peninggalan kolonial Belanda.
Salah satu arsitektur kolonial Belanda yang jarang diungkapkan adalah karya-karya arsitek Estourgie. Padahal ada puluhan bangunan kolonial buah karyanya banyak ditemukan di Surabaya dan kota-kota lain di sekitar.
Dosen Arsitektur UK Petra Timoticin Kwanda, B.Sc., MRP, Ph.D mengatakan, masyarakat luas hanya banyak mengenal nama arsitek kolonial lainnya, salah satunya Cosman Citroen. Arsitek ini jauh lebih terkenal berkat karyanya yang masih menjadi ikon Surabaya hingga masa modern saat ini, seperti Gedung Balaikota (Gemeente) Surabaya serta RS Darmo juga beberapa bangunan ikonik lainnya.
“Estourgie merupakan salah satu arsitek terkenal satu masa dengan Citroen. Hanya saja arsitek ini belum begitu dikenal kalangan akademik. Karya Estrougie banyak ditemui tapi belum banyak digali oleh kita,” ujar Timoti kepada SurabayaTIMES, Rabu (11/10).
Estourgie menghasilkan puluhan karyanya mulai tahun 1920-1957an. Timoti mengungkapkan ada sekitar 40-an bangunan yang diketahui sebagai proyek garapan Arsitek blasteran Belanda dan Perancis ini. Beberapa bangunan yang masih bertahan di antaranya ialah Gedung Don Bosco (Jalan Tidar), GKI Pregolan dan gedung eks Apartment Complex for ASSI Sugar Syndicate (Jalan Comal).
“Apartemen ini kami perkirakan menjadi gedung apartemen pertama yang berdiri di Surabaya. Hanya saja sekarang masih tersisa bangunannya, sudah banyak renovasi,” ujar Timoti.
Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra itu menjelaskan, arsitektur karya Estourgie memiliki karakter yang khas. Pada masa itu, struktur bangunan sudah dikemas dengan penyesuaian iklim tropis setempat. Tergambar dari atap-atap yang tinggi.
Selain itu, setiap bangunan memiliki aksen yang hampir sama, yakni permainan garis vertikal dan horizontal yang jelas dan tegas. “Itu dibuktikan lewat menara atau tower yang berdiri tegak menempel dari salahsatu bagian bangunan,” urai Timoti.
Menurut Timoti, penelitian terhadap karya Estourgie dapat memperkaya wawasan dan nilai estetika dalam arsitektur bangunan. Selain itu hasil laporan dari penelitian juga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pelestarian bangunan cagar budaya kota Surabaya.
“Arti signifikan dalam meneliti arsitektur kuno ialah melalui 4 hal (Significance 4 field) yaitu, Historic (sejarah), aesthetic (estetika),scientific or research (riset ilmiah), dan social spiritual community Comparative conditions (Riset sosial/komunitas),” tandasnya.
Terpisah, Dr. Pauline KM. van Roosmalen selaku Konsultan riset warisan budaya PKMVR asal Belanda menambahkan, kegiatan merekam jejak bangunan karya Estourgie juga sebagai dokumentasi sejarah. Pihaknya juga berniat membantu pihak Pemerintah Kota Surabaya dengan menyampaikan hasil laporan dari riset karya Estourgie project.
“Hasil survei kami akan disampaikan ke Pemkot Surabaya. Ini bisa sebagai bahan pendukung ilmiah masuk untuk menginventarisir cagar budaya. Karena Cagar budaya bisa bertambah dan berkembang seiring perkembangan waktu,” imbuh Pauline.
Sumber : http://jatimtimes.com