
Ilustrasi neraca dagang. (Foto: Okezone)
Dedy Afrianto
Jurnalis
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan merilis data ekspor dan impor Januari 2016. Neraca perdagangan Indonesia sendiri, dalam dua bulan terakhir selalu mengalami defisit.
Pada November lalu, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD0,35 miliar atau USD346,4 juta dengan nilai ekspor USD11,16 miliar, dan nilai impor sebesar USD11,51 miliar. Defisit neraca perdagangan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sepanjang tahun 2015.
Sementara itu, pada Desember lalu BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit sebesar USD0,23 miliar dengan nilai ekspor USD11,89 miliar, dan nilai impor sebesar USD12,12 miliar.
Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih memprediksi neraca perdagangan pada Januari ini kembali akan mengalami defisit. Ekspor Indonesia diperkirakan masih labih kecil dibanding jumlah impor mengingat harga komoditas yang masih belum membaik sejak tahun 2015.
"Perkiraan saya masih defisit. Harga minyak masih turun sepanjang Januari. Sementara itu harga komoditas lainnya juga masih mengalami penurunan," ujar Lana.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowadjojo mengungkapkan ekspor Indonesia diprediksi masih sulit untuk bangkit meskipun nilai tukar sedang melemah. Pasalnya, Indonesia masih sangat tergantung dengan ekspor komoditas mentah.
"Indonesia ekonominya mengandalkan lebih kepada komoditas mentah. Itu memang kondisi nilai tukar tidak terlalu memberikan manfaat kepada peningkatan ekspor," ujar Agus.
Untuk diketahui, selain merilis data ekspor dan impor, BPS juga akan merilis data perkembangan upah pekerja/buruh, perkembangan nilai tukar rupiah eceran rupiah Januari 2016.
(mrt)
sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/02/15/320/1312103/menanti-rapor-ekspor-impor-awal-tahun